TNews, KOTAMOBAGU – Suasana Taman Kota Kotamobagu setiap akhir pekan kini berbeda. Sekelompok mahasiswa tampak duduk melingkar, membaca, dan berdiskusi di bawah rindangnya pepohonan, menamai aktivitas mereka “Ruang Literatur Baca Dibaca Membaca”.
Liputan langsung di lokasi menunjukkan, kegiatan ini bukan sekadar membaca buku. Puluhan mahasiswa dari berbagai kampus, seperti STMIK, STIE Widya Dharma, Insan Cita, dan UDK, hadir secara sukarela. Bahkan kelompok paguyuban Formasi Boltim turut ambil bagian, menjadikan ruang kecil di taman ini sebagai gerakan kolektif yang lahir dari keresahan bersama.
Yang menarik, para mahasiswa membuka lapak baca yang bisa diakses siapa saja. Pengunjung taman, dari anak-anak hingga orang tua, bebas meminjam dan membaca buku. Lapak ini menjadi simbol bahwa ruang publik seharusnya dapat diisi dengan kegiatan yang mencerdaskan dan inklusif.
Taman Kota Kotamobagu selama bertahun-tahun kerap dibayang-bayangi stigma negatif. Beberapa warga masih mengingat taman ini sebagai tempat yang rawan praktik prostitusi terselubung dan aktivitas lain yang merugikan masyarakat.
Holis Kadili, pengurus Komisariat STMIK, menjelaskan bahwa kegiatan ini lahir dari dorongan untuk mengubah persepsi lama tersebut. “Kegiatan ini adalah bentuk keresahan kami terkait pemanfaatan infrastruktur di Kotamobagu, khususnya taman kota. Selama ini taman kota distigma negatif. Kami ingin mengubahnya,” ujar Holis saat ditemui di taman, Senin, 24 November 2025.
Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menghidupkan kembali fungsi ruang publik sebagai sarana edukasi dan ekspresi kreatif. “Insyaallah kegiatan ini akan menjadi agenda berkelanjutan agar taman kota kembali digunakan untuk hal-hal positif dan bermanfaat,” tambahnya.*
Peliput: Kon









